Coretan

An-Nahl : 78

0

Jumat kali ini sedikit berbeda. Beranjak sore selepas sholat Jum’at, saya sudah bersiap pulang kantor. Ini hari yang ditunggu, saat yang menjadi dambaan seluruh jemaah Al-Bismaniah. Sebuah sekte penggemar bis yang bagi sebagian orang dianggap aneh, gila, bahkan sesat. Untung saja sekte ini diakui dan didukung oleh Majelis Transportasi Indonesia. Ya, ini Jumat Agung… Sebuah panggilan mulia dari Jakarta membuat Jumat ini saya harus melakukan perjalanan ke Barat, naik bis tentunya.

Tas sudah siap, tiket hotseat 1C sudah di tangan, diantar teman kantor langsung saja menuju Perempatan Dongkelan di Ring Road Selatan tepatnya ke agen Pahala Kencana. Pilihan armada kali ini jatuh pada Po. Pahala Kencana yang menurut bisik-bisik tetangga sangat rekomended. Mesin Mercedes Benz 1626 terbaru yang dibalut baju Jetbus. Sebuah kombinasi sempurna layaknya Raisya lagi ngopi di bawah rintik hujan….

Mendekati pukul 14.30, sosok rupawan berlivery “Nano-nano” berhenti di depan Agen. Di kaca samping tertulis besar-besar “Mercedes Benz OH 1626”. Yes, ini dia bis yang akan mengantar saya dalam perjalanan ke Barat kali ini. Menyusuri Ring Road selatan yang semulus paha Cherrybelle membuat laju bis semakin nyaman apalagi dengan suspensi AirSuspension bawaan pabrik.

“Panggil saja Mbah Puji”,  jawab Sang Sopir saat kutanya nama. Pembawaannya kalem, kisaran umur mendekati gigi 5, peci putih menutup kepalanya yang sebagian berubah warna. Sebuah tanda sarat pengalaman sopir menyopir. Pengalaman yang teruji waktu. Dan… jenggotnya yang memanjang tidak beraturan menjadi ciri khasnya. Mengingatkan saya akan Syech Puji yang terkenal itu. Mungkin itu kenapa dia menyebut dirinya Mbah Puji. Nama lengkapnya? Sayang beliau tidak memberi tahu.

Obral obrolan sebentar, tahu-tahu bis sudah nyampe Terminal Jombor. Di sini tidak hanya penumpang yang bertambah, namun juga kekaguman saya pada Mbah Puji ikut bertambah. Saat berhenti sebentar itu, Mbah Puji menyempatkan diri sholat Ashar terlebih dahulu. Tasbih yang melingkar di tangannya rupanya bukan sekedar hiasan tanpa makna, peci putihnya bukan atribut semata.

***********************

“Le, tolong tuliske iki…”  Kata Mbah Puji sambil menyerahkan selembar kertas dan ballpoint. Tangan yang satunya sibuk menerima telepon. Entah obrolan apa dengan seseorang di ujung sana, namun Mbah Puji meminta untuk menuliskan sesuatu.

“Tuliske, surat An-Nahl ayat 78”  Ujarnya sambil tetap menerima telepon. “Nggih Mbah” jawabku langsung menuruti perintahnya. “Kangge nopo niki mbah?”, buat apa ini mbah? Tanyaku setelahnya. “Wis tulis wae, iki aku kon moco surat iku…”. Mungkin seseorang di ujung telepon yang menyuruhnya untuk membuka surat An-Nahl ayat 78. Saya jadi penasaran, sayangnya handphone saya ngga bisa browsing buat nyari An-Nahl ayat 78.

Memasuki Magelang bus makin ngeblong, sayang konsentrasi saya terpecah antara memperhatikan jalan dengan sandek (*sandek; pesan pendek. Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang berkali-kali masuk. Ibu saya kirim pesan. Isi sandek yang begitu “debat-able” membuat saya tak lagi memperhatikan jalanan. Sampai akhirnya isi sandek sudah begitu genting dan keluar keputusan yang mengubah segala rencana.

“Jangan ke Jkt dulu kalau masih menghormati Ibumu”  Begitu inti sandek dari Ibu. Membuat saya bimbang. Bis sudah memasuki Bawen. Jalur Pantura yang terhormat belum pula saya lewati. Bagaimana ini?  Agak lama saya memutuskan. Kalau harus kembali ke Jogja sudah terlalu malam, lewat Secang sudah tidak ada bis, lewat Solo masih banyak namun terlalu malam sampai Jogja. Isi sandek masih saja membuatku bimbang, sementara bis berhenti sejenak di Terminal Ungaran.

Keputusan akhirnya saya buat, dengan berat hati akhirnya saya turun di Semarang. Keluar tol, di pertigaan IAIN arah Ngaliyan saya berhenti.

“Nyuwun sewu Mbah, mboten sios dugi Rawamangun…”  Kata saya sambil meminta untuk menepikan bis. “Lho ngopo?”  Katanya. “Niki onten acara mendadak”  Jawab saya sambil memandang pilu ke kursi hotseat 1C…..

“Suwun nggih Mbah!”  Teriak saya sesaat setelah kaki turun dari bis.

Akhirnya saya turun, berjalan pelan menuju deretan tukang ojek. Rumah Mbakyu saya di Ngaliyan menjadi tujuan selanjutnya. An-Nahl 78 masih menjadi misteri sampai saat ini. Entah, yang jelas spion tak pernah berdusta.

Nahl Surat 78

Salam dari Inyonge

2 Comments
  • Buyung Aji Widagdo May 13,2016 at 6:35 am

    Wanguun dab,..nganti mbrebes mili

    • admin Jun 20,2016 at 7:59 am

      tissu dab…tissu… :d

Leave Your Comment

Your Name*
Your Webpage

Your Comment*