Coretan

Bercumbu dalam Doa

0

Saya berada di titik puncak kerinduan yang teramat.

Terpisahkan oleh jarak,

dan hanya bisa bercumbu lewat doa;

semoga segera dipertemukan.

 

Terakhir kali bertemu setahun yang lampau,

saat pucuk-pucuk kapas belum juga memutih.

Katamu waktu itu;

biar waktu yang mendekatkan,

toh dalam jarak yang terbentang

ada harapan yang menjaga kita.

 

Ya, harapan.

Harapan untuk melaju,

yang menjaga cerita ini

tetap melaju sesuai takdirnya.

Mungkin ini cara Tuhan mendidik,

memisahkan untuk mengajarkan arti pertemuan.

Kita yang dipisahkan oleh jarak, bercumbu dalam doa.

Dan kini engkau datang menyapa,

tanpa kata-kata binar matamu sudah bercerita.

Ada berjuta kenangan di dalamnya

yang hendak engkau sampaikan.

 

“Aku datang, seonggok rindu kubawa untukmu,

pesananmu yang tak boleh kulupa”.

 

Katamu dengan tangan yang tak mau lepas.

Aku hanya tertawa, lalu mengumpat dalam hati.

Begini rupanya rasa itu.

Ah sial, kenapa harus menunggu setahun!

 

Ramadhan, engkau datang kembali

macam kekasih jauh yang kini mendekat.

Walau sebenarnya hati ini penuh tanya;

mungkinkah sebenarnya Ramadhan yang merindu

dan berharap kita terus datang?

Bukankah Ramadhan setiap tahun selalu ada,

dan kita yang belum tentu bisa bertemu dengannya?

 

Salam dari Inyonge

Jakarta, 07 Juli 2014
01:34 WIB

Leave Your Comment

Your Name*
Your Webpage

Your Comment*