Coretan

Ikon Baru Wisata Banjarnegara

0

Jakarta punya Monas, Semarang ada Lawangsewu, Surabaya berdiri Patung Sura dan Baya, Jogja punya hotel, eh Malioboro. Bandung punya Gedung bersejarah Konferensi Asia Afrika. Semuanya punya ikon wisata yang dibanggakan. Menjadi tujuan pelancong dari berbagai daerah. Menjadi anekdot kalo belum mengunjunginya berarti belum sah jalan-jalannya. Seperti belum ke Jogja kalau tidak mampir ke Malioboro.

Daerah lain juga punya kebanggaan. Purwokerto sangat membanggakan kawasan wisata di lereng Gunung Slamet; Baturaden. Lokasi wisata alam dengan hawa sejuk lagi adem dengan pancuran 7 yang melegenda. Bahkan sekarang di Baturaden dibangun Taman Bunga seperti di Eropa-eropa itu. Tentu lengkap dengan plang pengumuman dilarang swafoto sambil menginjak bunga. Geser sedikit ke arah Purbalingga, ada Owabong. Taman air terbesar dan terluas di Jawa Tengah. Belum ke Purbalingga kalau belum cebur-ceburan di Owabong. Daerah lain? Banyak. Tidak perlu saya tulis di sini. Hampir setiap daerah punya jujugan wisata andalan.

Bagaimana dengan Banjarnegara? Kampung halaman saya ini juga sekarang memiliki ikon wisata baru yang menjadi tujuan banyak orang. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota. Tepatnya di Banjarmangu. Dari Alun-alun Banjarnegara ke arah utara menyusuri jalan raya menuju Kalibening – Pekalongan kira-kira 20 menit saja. Hijaunya pepohonan di kanan kiri jalan menambah sejuk pemandangan mata. Tepat setelah MI Muhammadiyah Gripit di Banjarmangu, inilah lokasi yang hampir setahun belakang menjadi tujuan banyak orang; sebuah workshop pembuatan miniatur bis dan truk. Nama resminya “HKM”, yang merupakan kepanjangan dari “Hasil Karya Miniatur”. Pemuda bertangan dingin bernama Sugeng berada dibalik ketenaran HKM. Jika melihat miniatur hasil karyanya, rasanya tak menyangka jika ini dibuat oleh pemuda berumur 21 tahun. Ketelatenan dan ketekunannya terukir jelas dalam setiap detail miniatur yang dibuatnya.

Miniatur-miniatur buatan Sugeng berbahan baku utama kayu triplek. Memotong triplek, membuat pola, mengukir, menyambung sesuai bentuk asli, menjadi kesibukan Sugeng setiap hari. Dari mana referensinya? Sugeng menjelaskan jika semua itu hanya berdasarkan gambar yang diperolehnya dari internet. “Ini saya membuat bis jadul, yang dulu saya saja belum lahir waktu bis ini ada”, katanya dalam bahasa jawa halus.

2

Hampir semua pesanan diterima Sugeng melalui komunikasi di Facebook miliknya. Lewat Facebook pula, Sugeng memajang hasil karyanya. Silakan mampir ke Facebook-nya di    Mas Geng HKM Harganya bervariasi, tergantung model dan tingkat kerumitan. Bagi pemesan, terkadang harga bukan suatu hal yang dipermasalahkan. Hal lainnya yang harus diperhatikan justru tingkat kesabaran pemesan. Karena untuk satu unit miniatur, bisa sampai ke tangan pemesan minimal 9-10 bulan. Untuk masa produksi sendiri Sugeng menargetkan paling lama 1 bulan selesai. Namun banyaknya antrian orderan yang masuk membuat proses pembuatan miniatur menjadi lama.

4

Tapi rasa-rasanya, lamanya waktu produksi itu menjadi tak berarti saat melihat hasil karya miniaturnya. Bentuknya yang persis seperti aslinya, detailnya menggoda, 100% handmade, dan yang pasti berkelas. Ini barang alus…cocok buat koleksi, bukan kolekdol.

6

1

9

8

11

Menurut Sugeng, hal yang paling sulit dalam membuat miniatur adalah mengukir pola bentuk dan detail miniatur. Karena harus semirip mungkin dengan aslinya. Apalagi semuanya dilakukan dengan manual, 100% handmade. Dalam membuat miniatur, tahapan pertama adalah menggambar model body bis atau truk yang akan dibuat miniaturnya. Setelah pola gambar terbentuk, dipotong menggunakan cutter dan disambung menggunakan lem. Biasanya, Sugeng mengandalkan lem “G” dalam proses ini. Setelah body tersusun, tangan terampil Sugeng kembali beraksi dengan merapikan sudut-sudut miniatur agar tidak terlalu kaku.

Tahapan selanjutnya adalah melapisi miniatur dengan cat dasar berupa poxy. Setelah itu kembali dilapisi cat dasar berwarna putih atau bisa langsung dicat sesuai livery pesanan. Tidak lupa melengkapinya dengan part lain seperti roda, kursi, interior, spion, dll.

proses

Miniatur bagi Sugeng bukan sekedar barang transaksional yang “pesan – jadi – bayar.” Miniatur adalah perekat seduluran, sarana menyambung tali silaturahmi persaudaraan. Disetiap ukiran bentuk miniatur, Sugeng seperti memahat tali persaudaraan yang erat. Ada sambutan hangat setiap bertemu. Saya pernah beberapa kali ke workshop Sugeng. Dan alhamdulillah punya unit koleksi buatan Sugeng juga. Rasanya setiap pulang kampung ke Banjarnegara, harus mampir ke workshop HKM. Belum sah kalau belum ke HKM. Ayo, kapan mau wisata ke Sugeng HKM? Ada seduluran yang tulus khas Banjarnegara.

10

 

 

Salam dari Inyonge.

 

 

4 Comments
  • Nasrun Oct 25,2016 at 6:21 pm

    Kang aq wong blora ,iso njaluk nomermu utowo nmere mas sugeng ga? Aq yo penggemar dan miniatur truk ,ben iso nambung seduluran karo share pengalaman

    • admin Oct 26,2016 at 3:53 am

      coba ke Facebook “Mas Geng HKM” itu facebooknya sugeng, atau inbox FB ke “Fuad Nyong”, itu facebookq

  • Brata Jun 20,2016 at 7:51 am

    Walah inyonk nemebe ngerti nek neng mbanjar ana sing gawe kaya kiye nan. ujarku mung kota sebelah tok

    • admin Jun 20,2016 at 8:00 am

      Iya kang…monggo mampir

Leave Your Comment

Your Name*
Your Webpage

Your Comment*