Coretan

Kenapa Penumpang Disebut Sewa?

0

sumber: https://www.google.com/search?q=penumpang+bus&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiGy__iurDKAhWBGY4KHQjXCaYQ_AUIBygB&biw=1920&bih=941#tbm=isch&q=penumpang+kopaja+p20&imgrc=CLTszkpDr2wAVM%3A

Pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta sekitar dua tahun yang lalu. Naik bus Ramayana nomor lambung E1 dari Terminal Jombor, Jogjakarta menuju Terminal Lebak Bulus di Jakarta Selatan. Inilah pertama kali saya ke Jakarta.

Keesokan harinya, saya nyari Kopaja P20 dari Lebak Bulus buat nganter saya ke daerah Kuningan. Tempat saya magang jadi Copywriter Penulis Naskah Iklan di salah satu biro iklan advertising agency. Nah, yang saya bingung, kebanyakan kenek bilang “Sewa” ketika ada penumpang yang nyetop bis.

SEWA!!!
SEWA!!!
SEWA!!!

Kenapa penumpang disebut sewa di Jakarta? Pertanyaan yang sampai urusan saya di Jakarta selesai dan kembali lagi ke Jogja belum juga terjawab. Sampai akhirnya artikel di Kompas bisa menjelaskan kebingungan saya.

Menurut Mulyo Sunyoto dalam kolom Bahasa, di harian Kompas edisi 3 Desember 2010, dijelaskan bahwa pada tahun 1980 banyak pelajar SMA yang naik Bus PPD tanpa membayar. Pelajar SMA tersebut cuma bilang ”Numpang, Bang.” Yang disapa Bang melengos dengan muka kecut. Dalam sehari, sepekan, sebulan, setahun, berapa kali para kondektur mendengar kosakata yang masam ini? Itu sebabnya mereka membalas dendam: tak sudi mengucapkan kata itu beserta turunannya.

Kamus-kamus memaknai sewa sebagai ‘pemakaian sesuatu dengan membayar uang’. Frasa kuncinya: membayar dengan uang. Itu berlainan arti dengan tumpang yang menurunkan(me)numpang dan penumpang. Makna tumpang: ‘turut, ikut serta, membonceng’. Lazimnya orang yang turut, ikut serta, atau membonceng tak diwajibkan membayar dengan uang. (Sunyoto, Kompas 3/12/10)

Atas sebab itulah para kondektur sampai sekarang menyebut penumpang dengan sewa. Karena ‘Penumpang’ identik dengan ‘Numpang’ yang mana kebanyakan orang yang numpang tidak membayar.

Namun rupanya, penjelasan mengenai arti kata sewa yang ditulis oleh Mulyo Sunyoto tersebut dibantah F Rahardi, Sastrawan, masih di kolom Bahasa harian Kompas 10 Desember 2010. Menurut F. Rahardi Sewa dalam konteks pengangkutan umum di Jakarta bukan berasal dari sewa bahasa Indonesia ’pemakaian sesuatu dengan membayar’, melainkan sewa dialek Medan dari bahasa Batak Toba yang memang berarti ’penumpang’.

Katanya, istilah sewa sebagai padan penumpang di Jakarta mulai marak tahun 1970-an. Pada tahun-tahun itulah banyak etnis Batak yang merantau ke Jakarta dan sebagian dari mereka berprofesi sebagai pengemudi serta kenek angkutan umum. Merekalah yang telah membawa kata sewa langsung dari Tanah Tapanuli. Lambat laun sopir dan kenek dari semua etnisitas di Indonesia ramai-ramai ikut menggunakan kata sewa sebagai padan kata penumpang.

Jadi makna penumpang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat bukanlah ’naik tanpa bayar’, melainkan ’orang yang menumpang atau orang yang naik kereta, kapal, dan sebagainya’. Untuk mewadahi ”naik tanpa bayar”, kamus itu menggunakan frasa penumpang gelap. Mungkin bagi kalangan Bismania nyebutnya Sarkawi ya?

Kata sewa dalam arti penumpang masih digunakan kalangan khusus dan terbatas. Artinya, kata sewa sebagai padan penumpang adalah istilah khusus di dunia pengangkutan umum darat. Itu pun masih sebatas kalangan kecil: sopir, kenek, dan kondektur (bus). Para penumpang sendiri dan pemilik kendaraan tetap menggunakan istilah naik dan penumpang. Taksi mulai menggunakan istilah tamu, sementara kereta api, kapal laut, dan pesawat terbang juga tetap menggunakan istilah penumpang.

Sumber:

Mulyo Sunyoto,Matinya Penumpang, Harian Kompas kolom Bahasa edisi 03 Desember 2010
Rahardian, Masih tentang Sewa, Harian Kompas kolom Bahasa edisi 10 Desember 2010
sumber foto: http://www.urb.im/sites/default/files/blgimg/ca130930jk-1_650x433.jpg

 

Salam dari Inyonge

1 Comment
  • penggemar utama Jan 18,2016 at 1:54 pm

    Terimaksih sudah membuat sesuatu yg bukan hanya unik, tp juga informatif

Leave Your Comment

Your Name*
Your Webpage

Your Comment*