Coretan

Kenapa Turun dari Bus Harus Kaki Kiri Terlebih Dahulu?

0

Kaki kiri!!
Kaki kiri!!
Kaki kiri!!

Pasti kita semua sering mendengar teriakan seperti itu. Setiap ada penumpang yang hendak turun, diingatkan oleh kernet untuk melangkahkan kaki kiri terlebih dahulu. Pertanyaannya adalah kenapa harus kaki kiri? Adakah yang kemudian iseng-iseng pakai kaki kanan terlebih dahulu?

Menurut ilmu fisika, setiap benda bermasa memiliki kelembaman (kemalasan). Artinya benda yang sedang diam akan malas/sulit untuk bergerak dan sebaliknya benda yang sedang bergerakpun akan sulit untuk berhenti. Nah, jika kita sedang berada di dalam bus yang sedang bergerak kemudian kita turun ke aspal yang diam maka tubuh kita akan cenderung tetap bergerak sehingga kita bisa terjatuh.

Kebiasaan seperti itu muncul di negara yang lajur kendaraannya berada di sisi kiri, atau kendaraan dengan kursi sopir di kanan, termasuk di Indonesia. Sehingga kalo kita turun dengan mendahulukan kaki kiri, yang kita lakukan adalah mempertahankan posisi badan kita agar ketika turun ke aspal kita cenderung bergerak ke depan. Badan menjadi lebih seimbang dengan bergerak ke depan.

Tapi sebaliknya, jika kaki kanan yang duluan turun tubuh kita akan sedikit berputar ke kiri, akibatnya kita akan cenderung bergerak ke samping. Dari dua keadaan tersebut kita akan lebih mudah untuk mempertahankan keseimbangan dengan bergerak ke depan.

Alasan lain yang mendukung penjelasan tersebut diatas dan sangat Indonesia sekali adalah karena buruknya pelayanan bus terhadap penumpang. Dalam hal ini berarti, konsumen yang selalu dirugikan. Dibeberapa tempat, masih banyak bus yang tidak berhenti total ketika menurunkan penumpang. Alasannya karena bus belakang udah nyodok, diburu waktu, ataupun karena sedang kejar-kejaran dengan bus lainnya. Sehingga penumpang yang hendak turun diperingatkan untuk melangkahkan kaki kiri terlebih dahulu. Seandainya bus berhenti total, penumpang yang hendak turun bebas melangkahkan kaki manapun. Lebih aman, lebih menghormati penumpang.

*dirangkum dari ulasan Prof. Yohanes Surya di majalah Intisari

 

Salam dari Inyonge

Leave Your Comment

Your Name*
Your Webpage

Your Comment*